Dengan menyebut nama Sang Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang tulisan ini dimulai. Saya, Angga, tokoh karakter utama di dalam ini adalah seorang laki-laki yang lahir pada tanggal 9 April 1991 atau 25 Ramadhan 1411, tepatnya kurang-lebih seminggu sebelum hari raya lebaran bagi umat muslim di seluruh dunia. Hari Raya dimana seluruh umat muslim merayakannya setelah satu bulan penuh menunaikan ibadah puasa dan juga membayar zakat; rukun puasa ke-tiga dan ke-empat di dalam Islam. Bulan yang seharusnya setiap umat muslim berjibaku untuk meraih amal dan ampunan sebanyak-banyaknya; disisi lain Ibu saya malah sedang hamil tua mengandung saya di dalamnya yang menyebabkan ibadah puasa lebih terasa berat. Atas dasar itu, semoga banyak keberkahan dilimpahkan kepada Ibu saya sewaktu masa hidupnya dan pengampunan yang berlimpah sewaktu ia kembali kehadiratnya. Satu hal yang menjadi kata kunci dari cerita ini adalah daya ingat saya yang lumayan kuat yang bisa mengingat hingga perkataan orang-orang disekitar saya, mungkin biasa saja atau biasa dianggap biasa saja. Tetapi saya tetap menganggap itu sebagai sebuah kelebihan ketika saya mampu mengingat perkataan orang dan bahkan mengulanginya ketika orang tersebut tidak mampu mengulanginya lagi.
Diceritakan oleh Ibu saya, ketika saya lahir. Waktu itu siang hari, mata hari tepat berada di atas kepala masing-masing orang, Ayah saya masih bekerja dan perut Ibu saya mulai berkontraksi. Beruntunglah ada paman saya yang menjaga ibu saya sewaktu beliau hamil tua. Ayah saya Endang Kartiwa atau biasa di panggil Ka Iwa; Ibu saya Rodiah atau dipanggil Teh 'Rod dan paman saya Muhammad Sadeli atau dipanggil Om Deli atau Om Didi. Jauhnya tempat Ayah saya bekerja di Jakarta sementara rumah saya yang berada di pinggiran Tangerang tidak memungkinkan beliau menjaga Ibu saya. Oleh karena itu, beruntunglah ada Paman saya yang dan kemudian mengantar Ibu saya ke tempat bersalin, di Rumah Sakit Harapan Ibu. Ibu saya diantarkan oleh Paman saya dengan menggunakan becak menuju ke tempat bersalin tersebut yang berlokasi berdekatan dengan Pasar Malabar. Sebenarnya sangat biasa sekali hal ini untuk diceritakan, tidak ada yang istimewa dari diantarkan dengan becak menuju rumah sakit yang berdekatan dengan pasar; tetapi rasa syukur saya yang menimbang bahwa hal ini layak untuk diceritakan dan tidak boleh terlupakan di dalam bagian hidup saya. Terima kasih Ibu dan Paman saya, sekali lagi terima kasih.
Sebelumnya, saya sudah memiliki dua orang kakak; Alvin dan Dilla; saya tidak pernah memanggilnya dengan kata sapaan "Kak!" atau "A!" sapaan kak bagi orang sunda pada umumnya; sejak salah satu dari kakak saya menangis karena tidak diberikan uang jajan lebih lalu meninju tangannya ke arah bingkai foto berkaca yang menyebabkan tangannya berdarah. "A! kenapa?" "Jangan panggil gw aa, gw bukan aa lu!" sahutnya membentak. saya adalah bocah kecil pendendam dan saya mengingat hal itu hingga sekarang haha. Saya tinggal di pinggiran Kabupaten Tangerang yang kelak menjadi Kota Madya lalu menjadi Kota Tangerang yang mandiri; Perumahan Nasional II yang menurut cerita dahulunya adalah perkebunan atau hutan karet. Hutan-hutan yang teak berpenghuni menjadi geliat di pinggiran kota penyangga Kota Jakarta. Sebelum disana, keluarga saya tinggal di Jelambar, Jakarta tetapi sudah dua kali terjadi kebakaran disana sehingga pada tahun 1989 keluarga saya menetap di Tangerang.
Kembali lagi disaat-saat kelahiran, lanjut Ibu saya bercerita. Saya adalah anak pendiam bahkan sejak kecil pun saya pendiam dan jarang menangis. Pun ketika dilahirkan, Ibu saya tidak perlu terlalu bersusah payah melahirkan. Pada awalnya, si Bidan; terima kasih Ibu Bidan hehe; berpikir bahwa belum waktunya saya untuk keluar atau dilahirkan kemudian ia melepaskan sarung tangannya kembali setelah sebelumnya mengecek kandungan Ibu saya yang sudah berkontraksi sejak di rumah tadi. Saat si bidan melepaskan sarung tangannya dan mencuci tangan lalu tiba-tiba saya keluar dari rahim yang menyebabkan ia harus menangani Ibu saya kembali.